Peran Ibu Mendukung Figur Ayah Saat LDR Kisah Tasya Kamila
Hubungan
jarak jauh atau long distance relationship (LDR) tidak hanya terjadi
pada pasangan kekasih. Banyak keluarga Indonesia menghadapi situasi serupa
ketika pekerjaan menuntut salah satu orang tua tinggal di kota berbeda. Dalam
konteks ini, parenting LDR menjadi tantangan besar karena anak
membutuhkan figur ayah yang hadir secara emosional meski secara fisik
berjauhan.
Tasya
Kamila, mantan penyanyi cilik yang kini dikenal sebagai ibu inspiratif, membuka
pengalaman pribadinya dalam menjaga kedekatan anak dengan ayah.
Suaminya, Randi Bachtiar, kerap bekerja di luar kota untuk waktu yang lama.
Meski terpisah jarak, mereka berhasil mempertahankan kehangatan keluarga.
Tantangan Parenting LDR
Menjalani pengasuhan
jarak jauh bukan perkara mudah. Anak-anak kerap merasa kehilangan figur
ayah, terutama pada masa perkembangan sosial-emosional. “Anak butuh rasa aman,
butuh tahu ayahnya hadir walau tak terlihat,” kata Tasya. Jika komunikasi tidak
dikelola dengan baik, anak bisa merasa cemas dan emosinya terganggu.
Menurut
pakar keluarga, rencana long-distance custody atau pengasuhan jarak jauh
sebaiknya disusun secara tertulis. Perjanjian ini berisi jadwal kunjungan,
pembagian tanggung jawab, hingga panduan komunikasi. “Tujuannya agar anak punya
kepastian,” tulis sebuah studi pengasuhan.
Namun,
perjanjian tertulis saja tidak cukup. Kehadiran emosional ayah dan dukungan ibu
adalah kunci. Anak-anak yang dibesarkan dalam situasi seperti ini rentan stres,
apalagi bila konflik orang tua berlangsung lama. “Mereka bisa beradaptasi,
tetapi tetap sensitif terhadap ketegangan,” jelas psikolog perkembangan anak.
Peran Ibu sebagai Penghubung Emosional
Dalam
situasi LDR, peran ibu menjadi sangat penting. Ia bukan hanya pengasuh,
tetapi juga penghubung antara anak dan ayah. Ibu dapat:
- Menyisipkan cerita tentang
aktivitas ayah setiap hari.
- Menunjukkan foto atau video
kegiatan ayah.
- Menyampaikan pesan dan kabar
ayah secara rutin.
Tasya
Kamila menegaskan bahwa figur ibu harus memberikan rasa aman sekaligus
menanamkan kemandirian anak. “Saya selalu menceritakan apa yang ayahnya
lakukan, supaya anak tetap merasa dekat,” ujarnya.
Penelitian
ilmiah juga menyebutkan anak kerap mewarisi kecerdasan dari ibu. Ketika seorang
anak mengamati ibunya, ia belajar keberanian dan percaya diri. Maka, peran ibu
tidak hanya pada pengasuhan fisik, tetapi juga perkembangan mental dan
intelektual.
Rutinitas Harian: Jembatan Kedekatan
Ayah-Anak
Kunci lain
dari tips parenting Tasya Kamila adalah membangun rutinitas harian.
Rutinitas membantu anak merasa stabil dan mengurangi rasa rindu pada ayah.
“Kami punya jadwal pagi dan malam yang konsisten, dari membaca buku sebelum
tidur hingga berbagi cerita,” kata Tasya.
Rutinitas
sederhana seperti jam bangun, waktu belajar, hingga kegiatan menjelang tidur
membuat anak merasa diperhatikan. Dalam konteks parenting jarak jauh,
rutinitas ini menjadi jembatan emosional. Anak tahu kapan bisa berinteraksi
dengan ayah melalui video call atau pesan suara.
Teknologi sebagai Media Kedekatan
Tasya dan
Randi memanfaatkan teknologi untuk menjaga ikatan keluarga. Video call rutin,
pesan singkat, dan permainan online menjadi cara mereka hadir dalam keseharian
anak. “Meski hanya beberapa menit, video call memberi efek besar pada kedekatan
emosional,” kata Tasya.
Strategi
ini sejalan dengan saran pakar: gunakan teknologi secara terarah, bukan sekadar
hiburan. Tetapkan waktu khusus agar anak tidak kecanduan gadget. Dalam
praktiknya, Tasya sering mengajak anak menggambar bersama secara virtual atau
bermain game edukatif.
Kualitas Waktu Lebih Penting daripada
Kuantitas
Meski
pertemuan fisik jarang, momen berkualitas tetap jadi prioritas. Ketika
ayah pulang, Tasya memastikan keluarga memanfaatkan setiap detik. Aktivitas
seperti membaca buku, bermain peran, atau memasak bersama menjadi cara
menanamkan nilai kedekatan keluarga. “Yang penting bukan lamanya waktu, tapi seberapa
dalam kita terlibat,” jelasnya.
Menangani Stres dan Ketakutan Anak
Selain
menjaga rutinitas, ibu juga berperan dalam mengelola emosi anak. Anak bisa
mengalami ketakutan yang tampak sepele, seperti takut jatuh ke lubang atau
cemas ditinggal. Psikolog menyarankan orang tua mendengarkan kekhawatiran anak
tanpa memaksa mereka menghadapi ketakutan secara langsung. “Dorong anak untuk
berbicara. Validasi perasaan mereka,” tutur Tasya.
Kesehatan
mental dan fisik juga menjadi prioritas. Aktivitas fisik ringan, bermain di
luar ruangan, dan waktu istirahat yang cukup menjaga anak tetap positif. “Kami
berusaha menjaga keseimbangan, karena anak yang sehat mentalnya lebih mudah
beradaptasi dengan kondisi LDR,” tambah Tasya.
Konsistensi Pola Asuh
Dalam era
digital, konsistensi pola asuh menjadi fondasi penting. Tasya dan Randi
menyepakati aturan yang sama, mulai dari jam tidur hingga cara mendisiplinkan
anak. Konsistensi ini menumbuhkan rasa aman, karena anak tahu apa yang
diharapkan meski ayah tidak selalu hadir.
“Anak
belajar bahwa ayah tetap terlibat dalam pengasuhan, meski jarak memisahkan,”
kata Tasya. Prinsip ini sejalan dengan tips parenting jarak jauh: selalu
jaga komunikasi, atur rutinitas, dan berikan contoh yang baik.
Inspirasi untuk Keluarga Indonesia
Kisah
Tasya Kamila menunjukkan bahwa tips parenting LDR dapat diterapkan siapa
saja. Peran ibu sebagai mediator, pemanfaatan teknologi, serta rutinitas harian
menjadi formula ampuh menjaga kedekatan anak dengan ayah.
Dalam
jangka panjang, pendekatan ini tidak hanya menjaga kehangatan keluarga, tetapi
juga membantu anak tumbuh mandiri dan percaya diri. “Yang terpenting adalah
cinta dan konsistensi. Jarak hanyalah tantangan, bukan penghalang,” tutup
Tasya.

