8 Tools AI Literature Review: Jangan Sampai Skripsi Molor

Daftar Isi


8 Tools AI Skripsi: Kelar Lebih Cepat!

💡 Ringkasan Panduan: mengulas 8 alat AI canggih seperti SciSpace dan Semantic Scholar yang dapat mempercepat proses literature review melalui fitur ringkasan otomatis dan pemetaan jurnal. Pemanfaatan teknologi ini bertujuan membantu mahasiswa dan peneliti bekerja lebih efisien serta menghindari keterlambatan penyelesaian tugas akhir.

Pernah nggak sih kamu membayangkan, lima tahun dari sekarang, kamu melihat ke belakang dan menyadari betapa banyaknya waktu yang terbuang sia-sia hanya karena cara kerjamu kurang efisien?

Bayangkan saat teman-teman seangkatanmu sudah wisuda lebih dulu, memulai karier, atau lanjut S2, sementara kamu masih berkutat dengan tumpukan PDF yang belum selesai dibaca. Sakit, kan?

Jujur saja, proses literature review atau tinjauan pustaka adalah fase paling melelahkan dalam penelitian. Dulu, aku pun sempat terjebak di fase ini: membaca ratusan jurnal satu per satu, mencatat manual, dan berakhir pusing sendiri. Padahal, jika kamu tahu caranya memanfaatkan teknologi dari sekarang,

kamu bisa memangkas waktu kerja hingga 70%. Jangan sampai penyesalan itu datang di akhir semester hanya karena kamu "telat tahu" ada cara yang lebih cerdas. Di era digital ini, menggunakan ringkasan artikel otomatis bukan lagi soal curang, tapi soal strategi bertahan hidup akademis yang efektif.

Berikut adalah 8 tools AI canggih yang wajib kamu coba untuk mempercepat proses literature review kamu, agar drama "skripsi molor" bisa kamu hindari.

 

1. Semantic Scholar

Kalau kamu masih mengandalkan Google Scholar saja, kamu mainnya kurang jauh. Semantic Scholar adalah mesin pencari berbasis AI yang menurutku jauh lebih "peka" terhadap konteks penelitian.

Kenapa ini penting? Karena dia tidak hanya mencari kata kunci, tapi memahami hubungan antar topik. Fitur yang paling aku suka adalah kemampuannya menonjolkan highly influential citations. Jadi,

kamu nggak perlu buang waktu membaca jurnal yang kurang relevan. AI-nya akan langsung menyodorkan mana paper yang paling berpengaruh di bidangmu, lengkap dengan ringkasan artikel otomatis satu kalimat (TL;DR) yang sangat membantu screening awal.

 

2. SciSpace (Dulu Typeset.io)

Ini adalah salah satu primadona di kalangan peneliti saat ini. SciSpace memungkinkan kamu untuk mengunggah PDF dan langsung "mengobrol" dengan dokumen tersebut.

Bayangkan kamu punya jurnal yang bahasanya super njelimet. Dengan SciSpace, kamu tinggal highlight bagian yang bingung, dan AI akan menjelaskannya dengan bahasa manusia yang sederhana. Fitur Copilot-nya juga bisa diminta untuk membuat ringkasan artikel otomatis dari bab pendahuluan atau metodologi saja.

Ini sangat menghemat waktu ketika kamu harus membandingkan metode dari 20 jurnal berbeda dalam satu malam. Pengalamanku, akurasi penjelasannya cukup tinggi untuk paper berbahasa Inggris maupun Indonesia.

 

3. Elicit

Elicit sering disebut sebagai asisten riset pribadi. Alih-alih mencari berdasarkan keyword kaku, kamu bisa bertanya dalam bentuk pertanyaan penelitian, misalnya: "Apa dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja di negara berkembang?"

Elicit kemudian akan mencarikan paper yang relevan dan menyajikannya dalam bentuk tabel matriks. Ini fitur

"killer"-nya: dia akan mengekstrak poin-poin penting (seperti jumlah sampel, metode, hasil) ke dalam kolom-kolom yang rapi. Kamu nggak perlu buka file-nya satu-satu. Analisis QATEX (Question, Answer, Topic, Explanation) benar-benar terasa di sini; kamu tanya, dia jawab dengan data.

 

4. Consensus

Kadang kita butuh jawaban cepat: "Apakah kopi meningkatkan risiko jantung?" Kalau cari di Google biasa, hasilnya artikel blog yang belum tentu valid.

Consensus adalah mesin pencari yang menggunakan AI untuk mencari jawaban langsung dari jurnal ilmiah. Dia akan memberikan kesimpulan berdasarkan konsensus (kesepakatan) dari berbagai penelitian yang ada.

Ada fitur "Yes/No/Possibly" meter yang memvisualisasikan seberapa banyak paper yang setuju atau tidak setuju dengan pertanyaanmu. Ini sangat membantu untuk membangun argumen yang kokoh di Bab 2 kamu tanpa harus cherry-picking data.

5. ResearchRabbit

Kalau kamu tipe orang yang visual, kamu bakal jatuh cinta sama ResearchRabbit. Aku sering menyebutnya sebagai "Spotify-nya Jurnal Ilmiah".

Konsepnya unik: kamu masukkan satu atau dua paper "seed" (paper utama), dan dia akan membuatkan jejaring visual (grafik) yang menghubungkan paper tersebut dengan paper lain yang relevan.

Kamu bisa melihat siapa mengutip siapa, dan bagaimana perkembangan topik tersebut dari tahun ke tahun. Ini sangat berguna untuk memastikan tidak ada state of the art atau penelitian terdahulu yang terlewat, yang seringkali jadi alasan dosen pembimbing menolak bab tinjauan pustakamu.

 

6. Connected Papers

Mirip dengan ResearchRabbit, Connected Papers fokus pada visualisasi grafis. Namun, kelebihannya ada pada kesederhanaan interface-nya.

Setiap node (bulatan) mewakili satu paper. Ukuran bulatan menunjukkan jumlah sitasi, dan ketebalan garis menunjukkan seberapa kuat hubungannya. Dengan satu kali klik, kamu bisa melihat ringkasan artikel otomatis di panel samping. Alat ini sangat ampuh untuk mencari "mother paper" atau sumber primer yang menjadi dasar dari topik penelitianmu. Jangan sampai kamu mengutip "katanya si A dalam si B", padahal kamu bisa langsung menemukan sumber aslinya di sini.

 

7. Scholarcy

Nah, kalau kamu benar-benar butuh ringkasan artikel otomatis yang mendalam, Scholarcy adalah juaranya. Tools ini secara spesifik didesain untuk membaca dan merangkum.

Scholarcy bisa memecah artikel panjang menjadi kartu-kartu ringkasan (flashcards) yang mudah dicerna. Dia akan memisahkan mana latar belakang, mana metodologi, dan mana hasil penelitian secara otomatis.

Kerennya lagi, dia bisa mengekstrak tabel dan gambar dari PDF, lalu menyajikannya dalam format yang bisa diunduh ke Excel. Buat kamu yang sedang menyusun matriks penelitian atau systematic literature review, fitur ini adalah penyelamat hidup.

 

8. ChatPDF

Sederhana tapi powerful. Sesuai namanya, ChatPDF memungkinkan kamu berinteraksi dengan file PDF apapun.

Meskipun fiturnya tidak sekompleks SciSpace, kecepatan dan keringanannya patut diacungi jempol. Kamu cukup drag and drop file skripsi atau jurnal,

dan minta dia buatkan resume. Perintah seperti "Buatkan ringkasan artikel otomatis dalam 200 kata fokus pada hasil penelitian" bisa dieksekusi dengan sangat cepat. Ini sangat cocok untuk mahasiswa yang gadget-nya memiliki spesifikasi terbatas karena tools ini berbasis web dan sangat ringan.

 

Pentingnya Kurasi dan Etika (E-E-A-T)

Meskipun tools di atas sangat canggih, aku perlu ingatkan satu hal penting soal Trustworthiness (Kepercayaan). AI adalah asisten, bukan joki skripsi. Hasil ringkasan artikel otomatis yang diberikan oleh alat-alat ini harus tetap kamu verifikasi.

Terkadang AI bisa mengalami "halusinasi" atau salah menafsirkan konteks, terutama pada jurnal dengan bahasa yang sangat teknis atau sastra tinggi.

Gunakan hasil ringkasan mereka sebagai peta awal, tapi tetap baca bagian krusial dari jurnal aslinya untuk memastikan akurasi. Pengalaman menunjukkan, dosen penguji yang jeli biasanya tahu kalau mahasiswa hanya copy-paste hasil AI tanpa memahami isinya.

Jadi, jadikan AI sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi (Experience & Expertise), bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis kamu.

Penutup: Pilihan Ada di Tanganmu

Pada akhirnya, masa depan akademismu ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil yang kamu buat hari ini.

Kamu bisa memilih untuk tetap idealis dengan cara lama yang memakan waktu, tapi risikonya adalah kelelahan mental dan potensi tertinggal dari teman-temanmu. Atau, kamu bisa merendahkan hati sedikit untuk belajar menggunakan teknologi ini, mempercepat proses teknis, dan mengalokasikan energimu untuk analisis yang lebih tajam.

Ingat, penyesalan selalu datang terlambat. Jangan sampai setahun lagi kamu melihat ke belakang dan berpikir, "Andai saja aku pakai tools ini dari awal, mungkin aku sudah wisuda kemarin." Mulailah mencoba satu atau dua tools di atas hari ini juga. Semangat pejuang skripsi!

1. Apakah menggunakan AI untuk literature review dianggap plagiasi?
Tidak, selama kamu menggunakan AI untuk mencari, merangkum, dan memahami konsep. Plagiasi terjadi jika kamu menyalin hasil teks AI mentah-mentah ke dalam karyamu tanpa parafrase dan tanpa mencantumkan sumber aslinya.
2. Apakah tools ringkasan artikel otomatis ini gratis?
Sebagian besar tools di atas (seperti Semantic Scholar dan versi dasar SciSpace/ChatPDF) memiliki layanan gratis (Freemium). Namun, untuk fitur lanjutan seperti upload file tanpa batas atau analisis mendalam, biasanya memerlukan langganan berbayar.
3. Seberapa akurat ringkasan yang dibuat oleh AI?
Akurasi rata-rata cukup tinggi (sekitar 80-90%) untuk teks bahasa Inggris standar. Namun, untuk istilah spesifik bahasa Indonesia atau jargon lokal, kamu tetap wajib melakukan cross-check manual dengan membaca dokumen aslinya.
✍️ Ditulis oleh Akhdan  al fikri

 

Sevenstar Digital