Jangan Sampai Menyesal: Fakta Mengerikan di Balik Banjir Bandang Sumatra yang Wajib Kamu Tahu

Daftar Isi

Sungai meluap deras membawa material banjir bandang.

💡 Fakta Banjir Bandang: Banjir bandang dan longsor parah yang melanda Sumatra (Sumbar, Sumut, Aceh) pada akhir November 2025 bukan murni bencana alam, melainkan bencana yang diperparah oleh kerusakan ekosistem akibat ulah manusia.

Pernahkah kalian membayangkan bangun tidur di tengah malam, dan tiba-tiba air bah bercampur lumpur setinggi atap rumah sudah menerjang masuk? Itulah mimpi buruk nyata yang dialami saudara-saudara kita di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada akhir November 2025 lalu.

Tapi, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada air bah itu sendiri: Fakta bahwa bencana ini sebenarnya sudah bisa diprediksi. Narasi yang sering kita dengar di televisi mungkin selalu sama: "Ini karena curah hujan ekstrem."

Memang tidak salah, tapi itu hanya separuh dari kebenaran. Sebagai masyarakat yang cerdas, kita tidak boleh lagi menelan mentah-mentah alasan "faktor cuaca". Ada aktor intelektual lain di balik layar yang membuat hujan deras berubah menjadi monster yang mematikan. Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di tanah Sumatra.

 

Apakah Cuma Salah Hujan?

Mari kita jujur sebentar. Menyalahkan hujan itu paling gampang. Hujan tidak bisa protes, dan kita bisa berlindung di balik kata "takdir". Namun, data lapangan berbicara lain. Bencana hidrometeorologi yang menghantam tiga provinsi sekaligus di Pulau Sumatra ini membuka mata kita pada realitas yang pahit.

Bayangkan sistem drainase di rumah kalian. Jika selokan bersih, air hujan deras pun akan mengalir lancar. Tapi jika selokan itu penuh sampah dan disemen total, air sedikit saja bisa bikin banjir, kan?

Nah, hutan di hulu sungai itu ibarat selokan raksasa sekaligus spons penyerap air. Ketika fungsi itu hilang, inilah yang terjadi:

  • Hilangnya Rem Ekologis: Hutan yang gundul tidak punya akar kuat untuk mencengkeram tanah dan menahan air.
  • Air Meluncur Bebas: Tanpa pepohonan, air hujan langsung meluncur ke hilir dengan kecepatan tinggi (run-off), membawa serta tanah pucuk (top soil) yang subur.
  • Sedimentasi: Sungai menjadi dangkal karena lumpur, sehingga tak mampu lagi menampung debit air.

 

Mengapa Deforestasi di Hulu Sangat Mematikan?

Kita perlu masuk sedikit ke teknis. Dalam ilmu hidrologi, Daerah Aliran Sungai (DAS) itu satu kesatuan. Apa yang kalian lakukan di atas (hulu), pasti berdampak ke bawah (hilir). Masalahnya, data menunjukkan bahwa degradasi lahan di Sumatra sudah mencapai titik kritis.

Pakar UGM menyoroti bahwa banjir bandang yang destruktif ini diperparah oleh hilangnya tutupan hutan. Berikut adalah logika sederhana namun mematikan dari deforestasi yang terjadi:

  • Infiltrasi Nol Besar: Hutan yang sehat bisa menyerap air ke dalam tanah (infiltrasi). Lahan gundul atau yang sudah berubah fungsi membuat air bouncing atau memantul langsung ke sungai.
  • Tanah Menjadi Bubur: Tanpa akar pohon penyangga, tanah di lereng bukit menjadi labil. Saat dihantam hujan, ia berubah menjadi longsoran lumpur yang menyapu rumah di bawahnya.
  • Kecepatan Arus: Di hutan lebat, air butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke sungai utama. Di lahan kritis? Cuma butuh hitungan menit.

 

Tren Bencana: Sebuah Pola yang Berulang

Jangan pikir ini kejadian satu kali. Kalau kita tarik data ke belakang, ada pola yang sangat jelas dan menyeramkan. Para ahli mencatat adanya peningkatan tren bencana hidrometeorologi dalam dua dekade terakhir. Ini adalah grafik yang berjalan beriringan dengan grafik pembukaan lahan.

  1. Fase Pembukaan: Hutan di hulu dibuka untuk perkebunan, pertambangan, atau pemukiman ilegal.
  2. Fase Dormant (Tidur): Selama curah hujan normal, tidak ada masalah. Semua terlihat aman.
  3. Fase Pemicu: Datanglah fenomena cuaca ekstrem (seperti La Nina atau siklon tropis).
  4. Fase Bencana: Terjadilah kombinasi mematikan. Curah hujan tinggi bertemu dengan lahan yang "sakit".

 

Apa Bedanya Banjir Biasa dengan Banjir Akibat Kerusakan Ekosistem?

Mungkin kalian bertanya, "Ah, dari dulu juga ada banjir." Betul. Tapi karakter banjirnya berbeda. Banjir akibat kerusakan ekosistem hulu memiliki ciri khas yang jauh lebih destruktif. Ini bukan sekadar genangan air yang bikin motor mogok. Berikut perbedaannya:

  • Material Bawaan: Banjir ekologis membawa serta kayu gelondongan, batu besar, dan lumpur pekat. Ini tanda bahwa di atas sana, tanahnya longsor.
  • Warna Air: Airnya cokelat pekat atau hitam, menandakan tingginya erosi tanah.
  • Daya Hancur: Mampu menjebol tembok beton dan menyeret kendaraan, karena ada gaya dorong dari massa lumpur, bukan hanya air.

 

Solusi atau Kehancuran: Pilihan di Tangan Siapa?

Membaca ini mungkin membuat dada sesak. Tapi, pemahaman adalah langkah awal perubahan. Pemerintah daerah, pusat, dan kita sebagai masyarakat tidak bisa lagi bermain "petak umpet" dengan tata ruang. Restorasi hulu DAS bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Ini meliputi:

  • Penanaman kembali (reboisasi) dengan jenis pohon yang memiliki akar kuat.
  • Penegakan hukum tegas bagi perambah hutan di zona lindung.
  • Penerapan teknik konservasi tanah dan air di lahan pertanian miring.

Bencana di Sumatra akhir 2025 ini adalah alarm yang sangat keras. Alam sudah berteriak. Ingat, memperbaiki ekosistem memang butuh waktu puluhan tahun. Tapi jika tidak dimulai hari ini, anak cucu kita yang akan mewarisi air mata.

 

 Faq

1. Apakah banjir bandang di Sumatra murni karena penebangan liar?
Tidak murni 100%, tapi itu faktor pengali utama. Pemicunya adalah curah hujan ekstrem, namun penebangan liar dan alih fungsi lahan membuat tanah tidak mampu menyerap air tersebut, sehingga banjir menjadi jauh lebih parah dan merusak.
2. Apa itu fungsi hidrologis hutan?
Secara sederhana, fungsi ini adalah kemampuan hutan untuk mengatur tata air: menyerap air saat hujan (seperti spons), menyimpannya di tanah, dan melepaskannya perlahan ke sungai, sehingga mencegah banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau.
3. Mengapa bencana ini disebut bencana hidrometeorologi?
Karena bencana ini dipengaruhi oleh faktor air (hidro) dan cuaca/iklim (meteorologi), seperti banjir, longsor, dan puting beliung. Namun, intensitas kerusakannya sangat bergantung pada kondisi permukaan tanah (lingkungan).
4. Bisakah kita mencegah banjir bandang jika hujan sedang ekstrem?
Bisa diminimalisir risikonya. Dengan tutupan hutan yang baik di hulu, debit air yang turun ke hilir bisa dikurangi kecepatannya, memberi waktu bagi sungai untuk mengalirkan air dan memberi waktu bagi warga untuk evakuasi.
5. Apa yang bisa dilakukan masyarakat awam untuk membantu?
Selain bantuan logistik bagi korban, hal paling krusial adalah mengawal kebijakan tata ruang di daerah masing-masing. Protes jika ada pembukaan lahan di area resapan air dan dukung produk yang ramah lingkungan.
✍️ Ditulis oleh Akhdan  al fikri (alf)
Sevenstar Digital