Quarter Life Crisis Menurut Dr Tirta: Ini yang Harus dilakukan di Usia 20–25

Daftar Isi
Dr Tirta berbicara soal quarter life crisis dan tips hidup stabil di usia 20–25 tahun
Dr Tirta berbicara soal quarter life crisis dan tips hidup stabil di usia 20–25 tahun

Menurut Dr Tirta, cara terbaik menghadapi quarter life crisis di usia 20–25 adalah dengan berhenti mengejar hidup yang dramatis dan mulai membangun fondasi yang stabil lewat 7 langkah konkret yang bisa dimulai sekarang.

  • Hidup membosankan bukan tanda gagal, itu tanda stabil, dan itulah yang sedang kamu kejar
  • Medsos siapa pun adalah topeng, termasuk milik Dr Tirta sendiri
  • Usia 20–25 adalah jendela terbaik untuk pivot karir, prinsip, dan pendidikan
  • Jangan pernah buat keputusan besar saat sedih, marah, atau terlalu senang
  • Kesalahan di usia muda bukan aib, itu investasi pembelajaran untuk usia 30-an

Scrolling tengah malam, melihat teman sudah kerja di perusahaan bagus, ada yang baru launching bisnis, ada yang jalan-jalan ke luar negeri, lalu tiba-tiba kamu merasa tertinggal, padahal tadi sore baik-baik saja.

Itu bukan lebay. Itu quarter life crisis.

Dan ironisnya, orang yang sering dijadikan tolok ukur "sukses" di medsos pun mungkin mengalami hal yang sama, hanya saja mereka tidak menampilkannya.

Tirta Mandira Hudhi, dokter sekaligus pengusaha yang kontennya kerap viral, terang-terangan mengakui ini dalam sesi tanya jawab di channel YouTube Malaka Project. Bukan ceramah motivasi. Bukan konten inspirasi standar. Tapi pengakuan jujur dari seseorang yang sudah melewati fase yang sedang kamu hadapi.

 

Apa Itu Quarter Life Crisis dan Kenapa Kamu Tidak Sendirian?

Quarter life crisis adalah periode kebingungan identitas, arah hidup, dan rasa tidak cukup yang umumnya dialami di rentang usia 18–28 tahun, paling intens di usia 20–25.

Ini bukan gangguan mental, tapi ini nyata. Tekanannya datang dari semua arah sekaligus: karir belum jelas, finansial belum stabil, ekspektasi keluarga makin keras, sementara medsos mempertontonkan highlight reel orang lain setiap hari tanpa henti.

Dr Tirta menyebut masalah ini dengan sangat lugas: kehidupan di medsos dan dunia nyata itu sangat berbeda. Bahkan dirinya sendiri, yang punya jutaan followers dan bisnis yang jalan, hidup dalam dua versi.

Versi publik yang terlihat di layar, dan versi asli yang hanya diketahui inner circle-nya: teman SMA dan kuliah di Jogja dan Solo, keluarga terdekat, dan pegawai kepercayaan.

Yang kamu lihat di medsos seseorang bukan hidupnya. Itu positioningnya.

 

Baca Juga: Quarter Life Crisis Setelah Lulus: Normal atau Tanda Bahaya?

 

Dr Tirta di Usia 35: Hidupnya Membosankan dan Justru Itu Tujuannya

Dr Tirta membuka dengan pengakuan yang mengejutkan di usia 35, hidupnya sangat membosankan.

Rutinitasnya tidak jauh dari bangun pagi, subuh, olahraga, sarapan, meeting lewat delegasi atau digital, siang olahraga lagi kalau tidak ada jadwal, sore rapat, magrib pulang, family time, tidur. Repeat.

Tidak ada yang dramatis. Tidak ada petualangan spontan. Tidak ada momen viral yang nyata di kehidupan sehari-harinya.

Tapi di sinilah poinnya, boring itu artinya stabil. Fixed income sudah ada. Fixed cost sudah terprediksi. Pajak, tabungan, dana darurat semuanya sudah terhitung. Tidak ada kejutan yang menghantam.

Kondisi itulah yang sedang kamu perjuangkan sekarang, bahkan kalau kamu belum menyadarinya. Quarter life crisis sebagian besar adalah krisis karena belum sampai ke titik itu, bukan karena hidupmu salah arah.

 

Baca Juga: Kuliah, Kerja, atau Gap Year Setelah Lulus SMA? Ini Pertimbangannya

 

Apa yang Harus Dilakukan di Usia 20–25 Menurut Dr Tirta?

Berikut 7 langkah konkret yang disampaikan Dr Tirta, bukan sebagai motivasi, tapi sebagai peta jalan dari seseorang yang sudah melewati fase yang sedang kamu hadapi.

1. Cari Ilmu Sebanyak-banyaknya dari Mana Saja

Di usia 20–25, energimu adalah aset yang belum akan kamu miliki lagi dengan cara yang sama. Kamu masih bisa begadang, masih bisa belajar tanpa terlalu banyak tanggungan.

Gunakan itu. Bukan hanya di bangku kuliah atau kelas formal. Ilmu yang paling berguna sering datang dari mentor langsung, dari teman tongkrongan yang sedang membangun sesuatu, dari buku yang tidak ada di silabus, dari konten orang-orang yang sudah lebih jauh melangkah.

Ilmu yang kamu kumpulkan sekarang akan bekerja untuk kamu di usia 30-an, bukan sebagai hafalan, tapi sebagai naluri dan referensi saat menghadapi keputusan nyata.

2. Jangan Takut Pivot, Ini Waktunya yang Paling Aman

Di usia 35, pivot itu mahal. Ada sistem yang sudah berjalan, reputasi yang dipertaruhkan, tim yang bergantung, dan risiko finansial yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Di usia 20–25, kamu hampir tidak punya semua itu. Dan itu bukan kekurangan, itu keuntungan strategis.

Ganti jurusan kalau memang salah. Keluar dari karir yang tidak cocok kalau ada tujuan yang lebih jelas. Revisi prinsip yang ternyata tidak bekerja. Pivot bukan kegagalan tapi koreksi arah yang hanya bisa dilakukan dengan murah di usia ini.

3. Jaga Fisik Sekarang Sebelum Tubuh Menagih dengan Bunga

Dr Tirta berbicara dari posisi dokter, bukan sekadar influencer gaya hidup. Ia menyaksikan langsung teman-temannya yang di usia 25 menjalani gaya hidup buruk dan menolak berubah, kini di usia 30-an sudah menjadi pasien sindrom metabolik, HNP, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

Konsekuensinya bukan hanya soal kesehatan. Produktivitas turun, kemampuan menghasilkan income melemah, dan ini berdampak langsung ke kualitas hidup keluarga.

Olahraga di usia 20-an bukan soal penampilan. Ini soal kapasitas yang akan kamu butuhkan saat tanggung jawab makin besar.

4. Soal Menikah Cari yang Sudah Bersiap, Bukan yang Sudah Kaya

Dr Tirta merevisi satu narasi yang sering beredar, "jangan menikah dengan cowok dari nol." Menurutnya, framing itu keliru.

Yang harus dicari bukan kekayaan, tapi preparation. Apakah dia sudah punya rencana? Sudah tahu mau tinggal di mana, menabung bagaimana, dan bekerja sebagai tim seperti apa? Cowok dengan gaji UMR tapi sudah punya planning jangka panjang yang jelas jauh lebih solid dari cowok kaya yang hidupnya "gelundung" tanpa arah.

Dalam rumah tangga, keuangan adalah urusan bersama. Bukan kompetisi, bukan wilayah satu pihak. Pasangan yang bekerja sebagai satu tim, saling backup, tidak saling merendahkan, itulah yang membuat finansial rumah tangga tumbuh konsisten.

 

Baca Juga: Perasaan Hampa Setelah Lulus dan Quarter Life Crisis yang Jarang Dibicarakan

 

5. Pertemanan di Dunia Kerja Itu Profesional Bukan Personal

Ini salah satu poin yang paling sering menjadi sumber kecewa bagi anak muda yang baru masuk dunia kerja.

Rekan kerja adalah mitra profesional, bukan sahabat. Mereka dinilai dari KPI yang sama, berkompetisi di sistem yang sama. Ketika kamu dapat bonus dan mereka tidak, atau sebaliknya, dinamika pertemanan bisa berubah drastis.

Bukan berarti harus dingin atau tidak ramah. Tapi jangan curhatkan hal-hal pribadi yang terlalu dalam, dan jangan kaget kalau perlakuan berubah saat ada persaingan. Pisahkan pertemanan kerja dan pertemanan sejati, keduanya punya fungsi berbeda.

6. Jangan Pernah Buat Keputusan Penting Saat Dikuasai Emosi

Quarter life crisis sering mendorong keputusan impulsive, resign karena dibentak atasan, putus karena satu pertengkaran besar, atau sebaliknya, commit pada sesuatu saat sedang euforia.

Dr Tirta menceritakan kasus nyata dari timnya sendiri. Seorang karyawan di kepala lima datang ingin resign karena marah pada rekan kerja. Di tengah pembicaraan, mereka menyadari kasbon belum lunas, artinya gaji bulan itu akan terpotong besar, dan dia belum punya pekerjaan pengganti. Dia batal resign.

Tiga kondisi paling berbahaya untuk mengambil keputusan besar adalah terlalu sedih, terlalu senang, terlalu marah. Dalam ketiga kondisi itu, logika bias. Keputusan yang dihasilkan hampir selalu akan disesali.

Solusi praktisnya sederhana. Cuci muka. Olahraga. Tidur dulu. Baru putuskan.

7. Salam, Senyum, Sapa Karena Ekonomi Bisa Berbalik Total

Dr Tirta punya pengalaman langsung dengan ini. Tahun 2014, saat pertama kali datang ke Jakarta untuk merintis bisnis skincare, dia dibully habis-habisan karena dianggap kampungan. Gaya berpakaiannya diejek, logatnya jadi bahan tertawaan, tongkrongannya beda level.

Bertahun-tahun kemudian, orang yang mengejeknya kini menjual barang wholesale ke Tirta. Mobilnya sama dengan manajer Tirta.

Ekonomi itu tidak linear. Orang yang hari ini terlihat lebih tinggi dari kamu bisa berada di posisi yang sangat berbeda dalam 10 tahun. Dan orang yang kamu remehkan hari ini bisa jadi orang yang menyelamatkan hidupmu esok hari.

Jangan bully. Jangan merendahkan. Bukan karena idealisme, tapi karena itu keputusan jangka panjang yang paling rasional.

 

Baca Juga: Lulusan SMK Langsung Kerja dan Quarter Life Crisis yang Tidak Pernah Disiapkan

 

Mengapa Medsos Bukan Cerminan Hidup Siapapun, Termasuk Milik Dr Tirta?

Satu hal yang Dr Tirta tekankan dan jarang dibahas secara seterbuka ini, akun publiknya adalah alat, bukan jendela ke hidupnya.

Di medsos, dia hadir sebagai pengusaha, konsultan bisnis, dan health educator. Itu positioning yang disengaja. Sementara hidup aslinya memiliki rutinitas harian yang monoton, keputusan yang kadang salah, momen-momen yang tidak layak dipamerkan dan hanya diketahui oleh inner circle-nya.

Ini bukan kemunafikan. Ini kecerdasan sosial yang datang seiring pengalaman. Mengetahui kapan harus menampilkan sisi mana dari diri sendiri, di konteks mana, kepada siapa, itulah yang Dr Tirta sebut sebagai positioning.

Quarter life crisis sebagian besar diperpanjang oleh ilusi bahwa orang lain hidupnya lebih utuh dari yang kamu lihat. Tidak. Mereka hanya lebih selektif dalam memilih apa yang ditampilkan.


Ilustrasi anak muda menghadapi quarter life crisis, bingung karir, finansial, dan arah hidup
Ilustrasi anak muda menghadapi quarter life crisis, bingung karir, finansial, dan arah hidup

Apakah Semua Kesalahan di Usia Muda Bisa Dimaafkan?

Ya, dan ini bukan sekadar penghiburan.

Dr Tirta menutup sesinya dengan pernyataan yang tegas bahwa tidak ada anak muda yang salah. Setiap kesalahan di usia muda adalah biaya belajar yang harus dibayar, dan nilainya akan terasa di usia 30-an ke atas.

Yang berbahaya bukan salahnya, tapi menghindari salah sampai tidak berani bergerak sama sekali.

Anak muda yang takut pivot, takut mencoba, takut mengambil risiko kecil karena khawatir dianggap gagal, justru akan menghadapi krisis yang lebih besar di usia yang lebih tua, saat risikonya sudah jauh lebih mahal.

Kamu sedang dalam fase assembly. Bukan fase menampilkan hasil.


Quarter Life Crisis Bukan Krisis Kegagalan

Quarter life crisis bukan tanda bahwa kamu tertinggal atau salah pilih jalan. Ini tanda bahwa kamu sedang dalam proses membangun, dan proses itu memang tidak terlihat rapi dari luar.

Tujuh hal yang Dr Tirta sampaikan bukan resep instan. Tapi semuanya punya satu benang merah, kesabaran untuk membangun sesuatu yang stabil, bukan kecepatan untuk terlihat sukses.

Dari ketujuh poin itu, mulailah dari yang paling dekat dengan kondisimu sekarang. Tidak harus semuanya sekaligus. Yang penting bergerak dengan kepala dingin, bukan dengan emosi yang sedang meluap.


Dan percayalah Liverpool 30 tahun aja juara sekali.
Bisa jadi kalian 30 tahun lagi baru sukses.
Tirta Mandira Hudhi di channel YouTube Malaka Project

 

Kalau kamu merasa artikel ini relevan dengan yang sedang kamu hadapi, ada baiknya kamu juga membaca bagaimana quarter life crisis muncul dalam berbagai titik transisi seperti dari lulus sekolah, memilih antara kuliah atau kerja, hingga perasaan hampa yang kadang datang tanpa sebab jelas beserta panduan untuk mengatasinya.

Ditulis oleh Asher Angelica (Ica)

Sevenstar Digital