8 Cara Efektif Mengatasi Anak Laki-Laki yang Cepat Emosi agar Lebih Terkendali
Mengapa Anak Laki-Laki Sering Terlihat Lebih Mudah Meledak?
Banyak orang tua merasa kebingungan saat anak laki-laki
cepat marah atau meledak emosi. Perlu diingat, ini bukan semata-mata karena
mereka “nakal”. Secara perkembangan, anak laki-laki cenderung mengekspresikan
emosi dengan cara fisik dibanding verbal. Hormon testosteron yang lebih tinggi
dan kemampuan verbal yang masih berkembang bisa membuat ledakan emosi lebih
sering muncul.
(Sumber: Canva)
Tip Parenting: Orang tua perlu melihat emosi sebagai
sinyal, bukan masalah. Emosi adalah pesan bahwa anak sedang butuh bantuan
mengelola perasaannya.
Cara Mengendalikan Emosi pada Anak Laki-Laki
- Ajari
Anak Mengenali Emosi
Anak usia dini sering tidak tahu nama perasaan yang mereka alami. Ajak mereka menamai emosi: “Kamu sedang marah, ya?” atau “Kamu kecewa karena mainannya rusak.” - Validasi
Perasaan Anak
Jangan buru-buru menenangkan dengan kalimat “Jangan nangis.” Sebaliknya, katakan, “Ayah/Ibu mengerti kamu kesal.” Validasi membantu anak merasa didengar. - Beri
Waktu untuk Tenang
Jika anak sedang marah besar, beri ruang sejenak. Sediakan “sudut tenang” atau ajak napas dalam bersama. - Bantu
Anak Memecahkan Masalah
Setelah emosi reda, diskusikan solusi. Misalnya, jika ia marah karena mainan direbut teman, ajarkan cara meminta kembali dengan kata-kata. - Jadilah
Contoh yang Baik
Orang tua yang mudah tersulut emosi akan ditiru anak. Tunjukkan cara mengatur nada bicara dan bahasa tubuh. - Pelukan dan Kasih Sayang
-
Sentuhan fisik seperti pelukan memberi rasa aman dan menenangkan hormon
stres.
- Tetap
Tenang
Anak akan belajar bahwa marah tidak selalu harus diikuti teriakan. - Tetapkan
Batasan yang Konsisten
Jelaskan perilaku apa yang tidak boleh, misalnya memukul atau merusak barang. Batasan yang jelas membuat anak merasa aman.
(Sumber: Canva)
Dukungan Jangka Panjang dari Orang Tua
Selain mengelola emosi harian, penting bagi orang tua
memahami sampai kapan tanggung jawab ini berlangsung.
Menurut Hukum Indonesia
UU Perkawinan menegaskan orang tua wajib memelihara anak sampai ia menikah atau
mampu berdiri sendiri. Undang-Undang Perlindungan Anak juga menyebut usia 18
tahun sebagai batas kanak-kanak.
Menurut Ajaran Islam
Kewajiban memberi nafkah berlanjut hingga anak mandiri secara finansial, meski
sudah baligh. Orang tua juga tetap dianjurkan membantu saat anak masih menuntut
ilmu.
Faktor yang memengaruhi berakhirnya tanggung jawab:
- Kemampuan
mandiri secara finansial dan mental
- Pernikahan
dan memiliki keluarga sendiri
- Kondisi
khusus seperti masih kuliah atau sakit
Catatan Penting: Anak laki-laki yang sudah menikah
tetap wajib berbakti, tetapi fokus tanggung jawab finansialnya beralih ke
keluarganya.
Hubungkan dengan Pola Asuh Sehari-Hari
Mengajarkan anak mengelola emosi sejak kecil akan mempersiapkannya menjadi pribadi dewasa yang mandiri. Ini sejalan dengan prinsip Parenting Anak Laki-Laki yang menekankan kemandirian dan tanggung jawab.
Mengatasi anak laki-laki yang cepat emosi bukan soal memadamkan amarah, tetapi menumbuhkan keterampilan mengenal perasaan, mengatur diri, dan menyelesaikan masalah. Dengan contoh positif, kasih sayang, dan batasan jelas, anak belajar bahwa marah adalah wajar, tetapi tetap bisa dikendalikan.
By: Nayla Putri (Nay)
