Parenting Anak Laki-Laki: Menumbuhkan Tanggung Jawab, Empati, dan Kemandirian

Daftar Isi

 Membesarkan anak laki-laki memang punya tantangan tersendiri, Bunda dan Ayah. Anak laki-laki sering “diharapkan” kuat, tidak gampang menangis, atau cepat mandiri—padahal harapan itu kadang lupa bahwa ia juga manusia yang butuh didengar, dipahami, dan diberi ruang untuk berkembang. Nah, berikut langkah-langkah yang bisa diterapkan agar Si Kecil tumbuh jadi pribadi yang baik, seimbang, dan bertanggung jawab.

Ayah dan ibu menemani anak laki-laki bermain untuk menumbuhkan kemandirian sejak dini.(Sumber: Canva)

1. Jadikan Komunikasi Sebagai Rutinitas Harian

Salah satu cara paling efektif agar Si Kecil merasa dihargai adalah lewat komunikasi terbuka. Setiap hari, sisihkan waktu walau cuma 10-15 menit untuk ngobrol: tanya tentang sekolahnya, apa yang dia rasakan, atau hal kecil yang membuatnya senang atau sedih. Bila dia marah atau kecewa, dengarkan dulu sebelum memberi solusi. Dengan begitu, ia belajar bahwa perasaan itu penting dan tidak harus ditekan.

 

2. Beri Tanggung Jawab yang Sesuai Usia

Mulai dari yang sederhana: merapikan mainan, membantu menyiapkan makanan ringan, merawat hewan peliharaan, hingga tugas sekolah. Tanggung jawab kecil ini mengajarkan konsekuensi dan membangun kepercayaan diri. Jangan langsung ambil alih — meskipun kadang lebih cepat kalau kita sendiri, tetapi lewat kesalahanlah Si Kecil belajar banyak.

 

3. Contohkan Pengelolaan Emosi & Ketegasan yang Lembut

Anak laki-laki kerap diajarkan untuk “jangan menangis”, “harus tegar” — padahal menyeimbangkan emosi dan ketegasan justru membentuk karakter yang kuat. Contohkan bagaimana Ayah/Bunda menghadapi amarah, stres, atau kegagalan dengan cara yang sehat: tarik napas dulu, latihan kontrol emosi, minta maaf jika salah, atau tunjukkan empati. Ketegasan perlu, tetapi bukan keras tanpa penjelasan.

 

4. Empati & Kasih Sayang Fisik Tidak Kalah Penting

Meskipun “maskulinitas” sering identik dengan fisik dan keberanian, Si Kecil tetap butuh pelukan, tepukan di punggung, atau gestur kasih sayang lainnya. Hal-hal kecil seperti pelukan sebelum tidur atau cium tangan bisa membuatnya merasa aman dan dicintai, yang menjadi pondasi empati dan kasih sayang kepada orang lain kelak.

 

5. Dukungan atas Minat & Ekspresi Kreatif

Setiap anak punya topik yang mereka suka: bisa musik, olahraga, seni, membaca, sains, atau bermain lego. Dorong dia mengeksplorasi minatnya tanpa menghakimi — jangan buru-buru membandingkan dengan anak lain atau memaksakan yang “seharusnya”. Bila dia bosan, biarkan dia mengganti atau mencoba hal baru. Kebebasan berekspresi membantu dia mengenali siapa dirinya.

 

6. Disiplin dengan Batasan yang Jelas

Disiplin bukan berarti hukuman berlebihan, melainkan mengajarkan bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya. Buat aturan rumah yang jelas (misalnya: waktu tidur, tugas sekolah, merapikan kamar), dan konsisten dalam menerapkannya. Bila aturan dilanggar, beri konsekuensi yang wajar dan jelaskan mengapa aturan itu penting.

Ayah dan anak laki-laki berdiskusi tentang tanggung jawab sehari-hari.(Sumber: Canva)

7. Kenalkan Nilai Kebaikan dan Kejujuran Sejak Dini

Ajarkan pentingnya berbuat baik: berbagi, membantu orang lain, berkata jujur walau sulit. Misalnya lewat cerita atau contoh nyata di lingkungan sekitar. Bila Si Kecil melihat Ayah/Bunda memperlakukan orang lain dengan hormat, berkata jujur meskipun situasi sulit – ia akan meniru. Kekayaan karakter lahir dari hal-hal kecil seperti ini.

 

8. Berikan Zona Aman & Kesempatan untuk Gagal

Jangan takut jika Si Kecil salah atau gagal. Zona aman berarti ia tahu bahwa meskipun gagal, ia tetap dicintai. Dari kegagalan ia belajar: bagaimana bangkit, memperbaiki, mengatur strategi baru. Bunda/Ayah bisa berkata, “Gak apa-apa kalau kamu nggak berhasil kali ini, nanti kita coba lagi.”

 

9. Hindari Kritik yang Merendahkan

Kritik itu perlu, tapi cara menyampaikan sangat berpengaruh. Hindari kata-kata menyakitkan atau merendahkan seperti “kamu selalu…” atau “kenapa kamu nggak seperti dia?”. Lebih baik fokus pada perilaku, bukan pribadi: misalnya “Bunda sedih ketika kamu lupa membereskan mainan, ayo kita bereskan bareng agar lebih rapi.”

 

Apa yang Paling Dibutuhkan Anak Laki-Laki?

Selain kasih sayang dan bimbingan, anak laki-laki butuh bekerja — dalam arti diberi tanggung jawab nyata dan akuntabilitas. Mereka perlu menyadari bahwa keluarga mengandalkan mereka untuk hal-hal yang tidak akan selesai jika mereka lalai. Misalnya membantu menjemur pakaian, menyiangi tanaman, atau menjadi “asisten” saat Ayah memperbaiki peralatan rumah.

Pada titik tertentu, ada baiknya menawarkan pekerjaan yang dibayar, seperti membantu tetangga merapikan halaman atau menjaga hewan peliharaan. Bukan semata soal uang, melainkan agar Si Kecil belajar nilai kerja keras, komitmen, dan rasa bangga ketika tenaganya bermanfaat. Cara ini menanamkan sikap mandiri dan tanggung jawab sejak dini, sekaligus mengasah keterampilan hidup yang akan ia bawa hingga dewasa.

 

Mendidik anak laki-laki yang baik, seimbang, dan bertanggung jawab bukan soal membuat dia jadi “superhero” yang tak pernah salah. Kuncinya adalah kasih sayang, disiplin positif, teladan nyata, dan kesempatan untuk memikul tanggung jawab. Dengan komunikasi yang hangat dan contoh dari Ayah dan Bunda, Si Kecil akan tumbuh menjadi pribadi tangguh, berempati, dan siap menghadapi dunia dengan karakter yang kuat.


By: Nayla Putri (Nay)
Sevenstar Digital